Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Umum

Asing di Tanah Sendiri, Terusir, Terpinggirkan, Cerita Lelaki Paruh Baya dalam Pusaran Konflik Agraria PT KLS

473
×

Asing di Tanah Sendiri, Terusir, Terpinggirkan, Cerita Lelaki Paruh Baya dalam Pusaran Konflik Agraria PT KLS

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BANGGAI – Drama panjang konflik agraria di dataran Toili seakan tak pernah habis. Episode terus berlanjut dengan rentetan cerita pilu para petani yang menjadi korban akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS) di Kecamatan Toili Kabupaten Banggai.

Kali ini cerita datang dari lelaki paruh baya yang bernama Jeke Lamba (60) petani asal Desa Kayuku. Kisah pilu yang dialaminya berawal ketika pada tahun 2000, dirinya bersama keluarganya membuka lahan untuk berkebun.

Example 300x600

Sebagai penopang hidup, Jeke bersama keluarganya berkebun kakao dan kelapa dalam. Namun situasi itu berubah, ketika sekitar tahun 2003 Perusahaan datang dengan mengiming-imingi kerjasama dalam bentuk pola kemitraan plasma.

” Waktu itu mereka (perusahaan) datang menawarkan kerjasama, katanya akan dijadikan plasma,” kata Jeke. (30/11/2025).

Karna ditawarkan kerjasama, Jeke dan keluarganya menyepakati hal tersebut. Tanaman Kakao dan Kelapa dalam seketika itu digusur untuk kepentingan perluasan perkebunan sawit.

Namun tahun berganti tahun terus berjalan, alih-alih mendapatkan kompensasi atau pembagian dari perusahaan, lahan mereka yang berada tepat dibelakang pabrik itu telah dijadikan lahan inti dan dikuasai sepenuhnya oleh PT KLS.

Akibatnya, Jeke bersama keluarganya harus menelan pil pahit karna kehilangan satu-satunya sandaran ekonomi mereka yaitu tanah, yang selama ini dikelola sebagai penopang kehidupan.

” Yang mereka janjikan sampai saat ini tidak ada,” tuturnya.

Mirisnya lagi, kata Jeke, dirinya pernah diancam dilapor dituduh mencuri karna mengambil satu janjang kelapa sawit. Padahal satu janjang tersebut ia dapatkan tanpa sengaja ketika berjalan ditepi sungai.

” Waktu itu saya dapat satu janjang kelapa sawit yang jatuh taguling-guling dipinggir sungai. Saya bawa keluar, tapi langsung dicegat dijalan, diancam mau dilapor Polisi” cerita Jeke dengan mengingat betul kejadian itu.

Jeke Lamba adalah salah satu dari banyaknya petani Toili yang menjadi asing, terusir dan terpinggirkan dari tanahnya sendiri, akibat ganasnya kuasa modal yang eksploitatif dan intimidatif.

Saat ini, Jeke bertahan dipinggiran rimbunnya pohon sawit, dengan membangun pondok-pondok seadanya ditepian sungai, sebagai tempat berlindung dan bersandar tidur memupuk mimpi-mimpinya agar keadilan datang membangunkannya.

” Saya sudah jarang turun dikampung, lebih banyak hidup di pondok walaupun makan seadanya saja,” katanya.

Harapan Jeke sama dengan para petani lainnya yaitu kembalikan hak atas tanah mereka. Suara kecil ini diharapkan mampu menembus telinga para penguasa (Pemerintah) untuk berpihak dan memberikan rasa keadilan bagi mereka yang terpinggirkan.

SM

Example 300250
Example 120x600