Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250 Example 728x250
Umum

Puncak Kekeringan Agustus, Gubernur Sulteng Pimpin Rakor Penanganan Karhutla

11
×

Puncak Kekeringan Agustus, Gubernur Sulteng Pimpin Rakor Penanganan Karhutla

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PALU- Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Tengah memasuki fase yang membutuhkan kewaspadaan tinggi. Puncak kekeringan pada Agustus 2026 beriringan dengan meningkatnya kejadian kebakaran di sejumlah wilayah.

Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid memimpin langsung Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Karhutla dan Kekeringan di Ruang Rapat Polibu, Kantor Gubernur Sulteng, Senin (31/8/2026).

Example 300x600

Rakor mempertemukan unsur pemerintah daerah, Forkopimda, serta sejumlah instansi teknis untuk menyusun langkah penanganan yang lebih cepat dan terintegrasi.

Anwar menegaskan, karhutla bukan persoalan yang dapat ditangani secara parsial. Diperlukan gerak bersama antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, aparat keamanan, serta lembaga terkait.

“Hari ini kita melaksanakan salah satu kegiatan yang sangat penting dan mendesak bagi daerah kita, yaitu membahas langkah-langkah agar penanganan karhutla lebih masif lagi sehingga tidak meluas kerusakan yang ditimbulkan,” kata Anwar.

Sebelum rakor, Anwar mengaku telah berkomunikasi dengan Pangdam, Kajati, dan Kapolda Sulteng untuk menyatukan langkah menghadapi kebakaran dan kekeringan.

“Langkah-langkah yang sudah kita lakukan di tingkat kabupaten/kota bisa lebih sinergi lagi sehingga kita bisa mengantisipasi dampak kerugian yang lebih besar,” ujarnya.

Berdasarkan laporan BPBD Sulteng hingga 28 Agustus 2026, karhutla tersebar di sejumlah daerah. Di Kota Palu, kebakaran terjadi di kawasan Poboya dengan luas sekitar satu hektare. Kabupaten Tojo Una-Una menjadi perhatian serius dengan luasan kebakaran mencapai sekitar 83 hektare.

Karhutla juga tercatat di Kabupaten Banggai, Donggala, Parigi Moutong, Toli-Toli, Poso, dan Buol.

Menurut Anwar, grafik kejadian sempat meningkat pada awal tahun, namun upaya pemadaman bersama aparat di lapangan mampu menekan jumlah kejadian pada bulan berikutnya.

Meski demikian, pemerintah tidak ingin lengah. Kekeringan yang memuncak pada Agustus dinilai berkorelasi kuat dengan peningkatan karhutla.

“Ini tentu seiring dengan grafik terjadinya kekeringan. Puncaknya itu adalah Agustus. Dan ini korelasinya sangat kuat antara kekeringan seiring dengan kebakaran yang terjadi,” jelasnya.

Memasuki September, Gubernur meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kejadian jika kondisi kering masih berlangsung.

Example 300250
Example 300250
Example 120x600