BANGGAI – Konsolidasi dan Pembentukan perempuan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) sebagai perempuan penjaga identitas budaya dan wilayah adat digelar di Desa Baruga Kecamatan Lamala, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, Sabtu (13/12/2025).
Sebelum kegiatan dimulai, kedatangan rombongan yang terdiri dari Dewan AMAN Wilayah Sulawesi Tengah, Rifai Chinong dan Dewan AMAN Nasional Region Sulawesi, Ani Taere disambut dengan tarian cakalele yang menjadi sebuah tradisi masyarakat adat Tompotika.
Ketua PD AMAN Tompotika, Fainal Djibran dalam sambutannya mengatakan, kegiatan Konsolidasi dan Pembentukan Perempuan Adat ini adalah salah satu program yang tertuang dalam rapat kerja tahunan.
Kata Fainal, di tahun 2025 ini terdapat beberapa program yang telah dilaksanakan PD AMAN Tompotika yaitu mulai dari kegiatan pemetaan wilayah adat, pelatihan para legal, pembentukan barisan pemuda adat, hingga pada program terakhir yaitu pembentukan perempuan adat.
” Untuk tahun depan, kita akan berdiskusi tukar pikiran dengan para kades seperti apalagi program yang akan dilaksanakan. Tentunya tidak lain untuk kepentingan perjuangan masyarakat adat,” ungkapnya.
Sementara itu, Kades Baruga, Semuel Bohito yang membuka acara tersebut sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan di wilayahnya. Dirinya pun menyambut baik, ketika bisa terlibat dalam mendiskusikan atau merancang seperti apa program di tahun 2026 kedepannya.
” Sebagai Pemerintah Desa tentunya kami siap berkolaborasi terhadap kegiatan AMAN yang tentunya untuk melestarikan budaya dan memperjuangkan hak-hak masyarakat adat,” tuturnya.

Ani Taera yang menjadi pembicara pada kegiatan tersebut mengatakan, yang menjadi fokus isu utama bagi para perempuan adat yaitu tentang perlindungan tanah adat, pemberdayaan ekonomi berbasis kearifan lokal, dan penguatan posisi perempuan dalam struktur organisasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).
Dia mengatakan dibanyak kasus, perempuan adat masih mengalami banyak sekali stigma dan diskriminasi saat terjadi kasus perampasan lahan adat.
” Sebab perempuan biasanya berada di garis terdepan perjuangan mempertahankan lahan,” katanya.
Ani yang berasal dari Komunitas Pamona Poso itu mencontohkan bagaimana Pembangunan mega proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) PT, Poso Energy menyisahkan penderitaan masyarakat adat danau poso yang ada disekitarnya.
” Kami para perempuan adat di Poso terdepan dalam menyuarakan hak-hak masyarkat danau Poso,” ceritanya.
Katanya, Kehadiran PLTA Poso Energi juga merusak wilayah ulayat masyarakat adat danau poso. Padahal sejak turun temurun danau poso dipercayai telah memberikan kehidupan terhadap masyarakat disekeliling danau dan sungai poso.
” Sehingga keterlibatan perempuan adat dalam perjuangan masyarakat adat untuk menjaga keberlangsungan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya sangat dibutuhkan,” jelasnya.
Diakhir kegiatan, Purgianti Radjak terpilih sebagai Ketua melalui pemilihan demokrasi musyawarah dan mufakat dibeberapa komunitas adat tompotika. Sehingga siap menjalankan roda organisasi sebagai perempuan adat nusantara.
SM

















