BANGGAI – Pagi itu, Kuala Masungkang kembali mengalir deras. Arusnya kuat. Di tepinya, sekelompok anak berseragam putih biru berdiri ragu. Celana mereka sudah digulung. Sepatu digenggam di tangan.
Mereka adalah siswa SMP Negeri Satu Atap Batui, atau yang dikenal warga sebagai SMP Batui 5. Untuk sampai ke sekolah, mereka tidak butuh angkot. Mereka butuh keberanian untuk melawan arus.

Pemandangan ini, selama bertahun-tahun, adalah rutinitas. Dan beberapa waktu lalu, video mereka menyeberangi sungai itu viral. Indonesia melihat. Sulawesi Tengah tertampar.
Di atas Kuala Masungkang yang sama, tali-tali baja mulai direntangkan. Tiang-tiang besi mulai berdiri. Warga bergotong royong mengangkut material. Sebuah jembatan gantung sepanjang 111 meter sedang dibangun.
Bukan dari APBD. Bukan dari proyek pusat, Melainkan dari kocek pribadi seorang gubernur.
“Ini pakai dana pribadi Pak Gubernur Anwar Hafid,” begitu informasi yang beredar di kalangan warga Masungkang, Desa di ujung Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai itu. (22/9/2026).
Angkanya tidak kecil untuk material jembatan saja, kebutuhan anggarannya diperkirakan mencapai sekitar Rp250 juta, belum termasuk biaya perjalanan, akomodasi dan logistik tim teknis selama proses pembangunan.
“Kami sudah lama rindu jembatan. Anak-anak kami kalau mau sekolah harus basah-basahan,” ujar seorang Ibu matanya berkaca-kaca melihat rangka jembatan yang mulai terbentuk.
Kerinduan itu akhirnya terjawab. Bukan lewat janji musrenbang tahunan. Tapi lewat aksi cepat. Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, yang melihat viralnya perjuangan anak-anak Masungkang, langsung merespons. Tak menunggu APBD 2027, tak menunggu lelang proyek. Ia keluarkan dana pribadinya.
Jembatan gantung ini, ketika jadi nanti, akan menjadi urat nadi baru Masungkang. Anak-anak SMP Satu Atap tidak perlu lagi menenteng sepatu sambil melawan arus. Mereka bisa berlari. Berlari mengejar cita-cita tanpa takut tenggelam.
Pembangunan ini pun tidak dikerjakan dengan gaya kontraktor kota yang kaku. Warga sekitar dilibatkan. Ada partisipasi percepatan dari lingkungan. Ada gotong royong. Ada rasa memiliki.
“Ini jembatan kita. Dibantu Pak Gubernur, tapi kita yang jaga,” kata seorang pemuda desa setempat.
Kisah ini juga tentang bagaimana kekuasaan bisa hadir dengan cara yang paling manusiawi. Tidak dengan seremoni gunting pita dulu, tapi dengan mengirimkan kawat baja dan semen.
Pagi itu di Kuala Masungkang, anak-anak itu masih menyeberang. Masih basah. Tapi kali ini, di atas kepala mereka, ada rangka jembatan yang perlahan menyambung dari ujung ke ujung.
Mereka tidak perlu lagi menyeberangi arus sungai. Mereka akan menyeberangi masa depan.


















