BANGGAI– Hutan Bakau Kolomboy di Desa Mayayap, Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai kembali hijau.
Kamis (2/7/2026), ratusan bibit mangrove ditanam di kawasan pesisir tersebut. Aksi ini untuk memulihkan ekosistem dan menahan abrasi yang mulai menggerus pantai.
Kegiatan digagas Yayasan Pendidikan Rakyat bersama Aliansi Sulawesi. Aksi dipimpin Gita Ramadani Djibran dari Yayasan Pendidikan Rakyat dan Banggai Konservasi.
Yang menarik, penanaman ini didominasi kaum perempuan. Mereka tergabung dalam Komunitas Perempuan Hutan Hujan.
“Kami perempuan harus turun langsung. Kalau hutan bakau rusak, yang paling terdampak ya kami juga. Cari kayu susah, suami melaut juga makin jauh,” kata Gita di sela kegiatan.
Menurut Gita, mangrove bukan sekadar pohon. Bagi warga pesisir, mangrove adalah benteng hidup.
“Satu pohon mangrove yang hidup hari ini, itu artinya 20 tahun ke depan garis pantai kita masih aman,” ujarnya.
Aswat Palindong, Koordinator Pekerja Penyulaman Mangrove, juga hadir memantau penanaman. Ia menyebut Kolomboy termasuk titik rawan abrasi di Banggai.
Penanaman mangrove dinilai penting karena berfungsi sebagai habitat biota laut, pelindung garis pantai, dan penyangga kehidupan masyarakat pesisir.
Melalui kolaborasi Yayasan Pendidikan Rakyat, Aliansi Sulawesi, Banggai Konservasi, Komunitas Perempuan Hutan Hujan dan warga, kegiatan serupa diharapkan terus berlanjut.
“Kami tidak mau berhenti di sini. Ini harus dirawat seperti anak sendiri sampai besar,” tutup Gita.















