BANGGAI – Jumat (11/9/2026) di Perempatan Lampu Merah Karaton, Luwuk. Di tengah deru kendaraan dan terik matahari, sekelompok ibu-ibu berkerudung hijau sibuk membuka kardus. Isinya: ratusan bungkus nasi.
Mereka adalah perempuan dari Majelis Taklim Al-Jihad dan Masyarakat Tanjung Sari. Wajah mereka tenang. Tangan mereka cepat membagikan nasi kepada pengendara yang melintas.
Tak ada teriakan. Tak ada spanduk besar. Hanya senyum, doa, dan “Jumat Berkah”.
Pemandangan ini kontras dengan kabar yang sedang beredar: ancaman eksekusi lahan Tanjung Sari kembali bergulir di tahun 2026.
“Walau menghadapi ancaman eksekusi, kami mau tunjukkan. Perlawanan kami bukan cuma pekik dan bakar ban. Kami juga bisa saling berbagi,” kata Tante Bece salah satu anggota Majelis Taklim Al-Jihad.
Bagi Tante Bece dan ibu-ibu lainnya, bertahan di Tanjung Sari adalah ibadah.
“Mempertahankan harta, diri, keluarga, maka wajib dan termasuk jihad,” ucapnya.
Kalimat itu bukan retorika. Lahir dari pengalaman pahit yang masih membekas penggusuran paksa 2017 dan 2018 silam.
Waktu itu, ratusan aparat bersenjata lengkap dikerahkan untuk mengamankan eksekusi. Tapi yang menghadang bukan bambu runcing.
“Yang maju duluan kami, ibu-ibu. Kami duduk melingkar. Zikir. Baca Yasin. Itu barikade kami,” kenang Tante Bece.
Barikade zikir itu tidak bertahan lama.
“Bentrok. Water canon disemprotkan. Kencang sekali. Ada teman kami yang terpental, terseret. Bajunya robek, badannya memar,” ceritanya.
Setelah barikade jebol, suara mesin ekskavator meraung. Rumah demi rumah di Tanjung Sari dirobohkan paksa di depan mata penghuninya. Puluhan warga pun diamankan.
Pasca eksekusi, ratusan warga justru bertahan. Mereka mendirikan tenda-tenda darurat tepat di atas puing rumah mereka sendiri.
“Tidur di atas terpal. Kalau hujan, banjir. Makan dari sumbangan. Tapi kami tidak mau pergi. Ini tanah kami,” ujar Tante Bece.
Penolakan itu ternyata menggema sampai Jakarta. Bentrok 2017-2018 menjadi trending topic dan isu nasional. Tekanan publik begitu besar hingga Wakapolri saat itu, Komjen Syafruddin, harus turun langsung menginjakkan kaki di Tanjung Sari.
Tak lama kemudian, Komisi III DPR RI juga datang. Mereka duduk di atas tikar, mendengar langsung keluh kesah ibu-ibu yang kehilangan dapur dan tempat berteduh.
Momen itu memberi harapan. Tapi harapan itu kini diuji lagi. 2026, ancaman eksekusi kembali muncul.
” Walau menghadapi ancaman eksekusi, kami tetap menunjukkan bahwa kami bukan hanya teriak perlawanan. Di momentum Jumat Berkah ini kami tetap bisa saling berbagi,” tutur Tante Bece.
Aksi bagi-bagi nasi di lampu merah itu pun berakhir dengan doa bersama. Doa agar tanah, rumah, dan harga diri mereka tetap dijaga.
Di Tanjung Sari, perlawanan punya banyak wajah. Dan hari ini, wajah itu adalah wajah seorang Ibu.


















