MORUT – Menjelang pemilihan Kepala Desa Tompira, Kabupaten Morowali Utara, beredar isu terkait Calon Kades Nomor Urut 3, Sufran Tanadi. Ia dituding ikut dalam aksi demo terkait konflik lahan sawit PT ANA hanya untuk mendongkrak popularitas.
Sufran membantah tudingan itu. Menurutnya, aksi yang dilakukan warga beberapa waktu lalu murni untuk mendorong penyelesaian konflik agraria di desanya.
“Aksi masa itu tidak lain untuk mendesak kepada Pemerintah Daerah agar segera menyelesaikan konflik agraria,” ujarnya.
Sufran menyebut, upaya penyelesaian konflik lahan di lingkar PT ANA sebenarnya sudah dimulai sejak masa kepemimpinannya sebelumnya. Saat itu, Pemerintah Desa membentuk Tim Desa khusus untuk verifikasi dan validasi lahan milik warga Tompira.
“Proses verifikasi dan validasi lahan warga Tompira dan itu sudah rampung,” katanya.
Dari hasil pendataan itu, Sufran mengatakan pihaknya terus memperjuangkan agar lahan warga yang memiliki alas hak dapat dilepaskan oleh perusahaan. Selain itu, ia juga mendorong pemenuhan hak 20 persen lahan plasma untuk warga yang pengelolaannya direncanakan dalam bentuk koperasi.
“ Inilah langkah-langkah konkret yang kami lakukan,” ujarnya.
MELURUSKAN SOAL PPM
Isu lain yang muncul berkaitan dengan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat atau PPM dari perusahaan. Ada anggapan PPM dapat dibagikan langsung secara tunai kepada warga.
Sufran meluruskan. Ia menjelaskan, PPM merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yang wajib dijalankan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
“Program PPM ini adalah Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat di desa. Fokus utamanya mencakup sektor pendidikan, kesehatan, kemandirian ekonomi, infrastruktur, sosial-budaya, hingga pelestarian lingkungan,” jelasnya.
Ia menegaskan, dana PPM tidak dapat dibagikan tunai.
“PPM tidak bisa dibagikan secara tunai. Kalau ada kandidat yang mengatakan akan dibagikan kepada masyarakat secara tunai adalah keliru, karena PPM telah diatur mekanismenya sesuai aturan yang berlaku, tidak semau kepala desa,” katanya.
PRIORITASKAN AIR BERSIH
Di bidang infrastruktur dasar, Sufran juga menyinggung program air bersih. Menurutnya, Pemerintah Desa sebelumnya telah memulai langkah nyata untuk pemenuhan kebutuhan tersebut.
Dalam waktu dekat, rencananya akan dibangun bak induk besar untuk menampung dan mendistribusikan air kepada warga.
“Ini sementara dijalankan, karena air bersih adalah kebutuhan utama dan selalu menjadi prioritas Pemdes sebelumnya,” ujarnya.
Hingga saat ini, tahapan Pilkades Tompira terus berjalan. Di tengah menguatnya berbagai isu, Sufran mengimbau agar seluruh kandidat yang bertarung dapat menyampaikan visi dan misi secara edukatif kepada masyarakat.
“Politik desa harusnya mencerdaskan. Sampaikan program, bukan saling menjatuhkan,” ujarnya.
Ia berharap, pemilihan kepala desa dapat berlangsung damai dan menghasilkan pemimpin yang benar-benar memahami kebutuhan warga, mulai dari persoalan konflik tanah, air bersih, hingga pemberdayaan ekonomi.
















